Mengintegrasikan Konservasi dalam Agenda Pembangunan “dengan memperhatikan keberadaan Harimau Liar”

Bank Dunia dan Smithsonian Institution bergandengan tangan seraya Global Tiger Initiative mencapai momentum
Harimau liar – lambang kebudayaan bagi milyaran orang dan salah satu indikator kelestarian lingkungan hidup global – dimusnahkan oleh perdagangan satwa liar secara ilegal dan pemusnahan habitatnya secara membabi-buta. Dengan hanya 3.500 ekor yang tersisa di alam liar dan habitatnya yang menyusut menjadi 7% dari luasnya yang semula, spesies ini segera menghadapi keruntuhan penyebarannya dan kepunahan dalam satu dekade jika skenario bisnis yang masa bodoh terhadap lingkungan saat ini terus dibiarkan. Meskipun berhasil memenangkan beberapa pertempuran konservasi harimau, dunia sedang kalah perang. Keadaan harimau liar yang menyedihkan ini juga menggambarkan tantangan sistemik yang lebih luas untuk menyelaraskan agenda konservasi keanekaragaman hayati dengan agenda pembangunan ekonomi.
Tahun lalu, selebritis dan koalisi organisasi internasional dan nasional berkumpul di Kebun Binatang Nasional Smithsonian di hari yang cerah namun sangat terik pada musim panas, bersama Presiden Bank Dunia Zoellick, untuk meluncurkan Global Tiger Initiative (Inisiatif Penyelamatan Harimau Global). Sejak itu, para pejabat dan praktisi dari Negara-Negara yang Memiliki Populasi Harimau, konservasionis terkemuka, dan para pakar telah meningkatkan upaya mereka di lapangan dan, melalui dialong di tingkat negara, melanjutkan misi yang mendesak untuk menyelamatkan spesies yang agung ini serta menciptakan paradigma pembangunan baru yang berupaya menjadikan konservasi satwa liar yang hampir punah dan keanekaragaman hayati sebagai bagian utama dari agenda pembangunan.
Kemitraan ini mendapatkan dukungan tingkat tinggi dari sejumlah organisasi dalam sebuah acara publik yang digelar di Kastil Smithsonian yang bersejarah pada hari Rabu, tanggal 19 Juni ketika Sekretaris Smithsonian Wayne Clough, Presiden Zoellick, anggota Kongres AS Madeleine Bordallo, dan orang-orang lain berbicara secara bersemangat tentang konservasi satwa liar. Smithsonian dan Bank Dunia menandatangani sebuah nota kesepahaman (MOU) yang baru untuk memantapkan jaringan konservasi dan pembangunan untuk melatih perumus kebijakan dan praktisi dari Negara-Negara yang Memiliki Populasi Harimau dalam mengambil tindakan yang cerdas di lapangan terhadap suaka harimau dan Lanskap Konservasi Harimau yang telah ditetapkan di seluruh kawasan Asia Selatan dan Timur serta Timur Jauh Rusia.
“Smithsonian telah lama mengkhawatirkan keadaan harimau liar … dan dengan program seperti Jaringan Konservasi dan Pembangunan Bank Dunia ini, kita mempunyai kesempatan untuk melatih ratusan pembuat keputusan, profesional dan praktisi yang terlibat di lapangan dalam menstabilkan dan akhirnya memulihkan populasi harimau liar, kata Wayne Clough, Sekretaris Smithsonian Institution.
Presiden Zoellick menaruh perhatian yang besar di bidang konservasi spesies, perlindungan harimau liar dan keterkaitan antara konservasi dengan agenda pembangunan Bank Dunia. Dalam pernyataannya pada hari Jumat, ia mengatakan, “Ada energi baru dan perasaan mendesak sehubungan dengan konservasi harimau dalam dialog ini … Upaya ini tidak akan berhasil jika hanya berasal dari Washington atau Amerika Utara atau Eropa. Hal tersebut harus tertanam kuat dalam diri Negara-Negara yang Memiliki Populasi Harimau.” Ia juga menandaskan peranan istimewa yang dapat dimainkan bersama-sama oleh Amerika Serikat dan Cina – dua konsumen terbesar produk-produk satwa liar di dunia – dalam mengurangi permintaan global terhadap harimau mati dan spesies-spesies yang hampir punah.
Penandatanganan MOU tersebut menandakan dimulainya kemitraan yang unik antara Bank Dunia dengan Smithsonian Institution, yang membangkitkan harapan bahwa pengalaman Smithsonian di bidang riset dan konservasi akan menghasilkan sinergi dengan keahlian Bank Dunia di bidang pembangunan untuk mengadakan perubahan yang menguntungkan bagi harimau liar. Kesepakatan ini menetapkan pemberian pelatihan melalui kerja sama dengan Kebun Binatang Nasional Smithsonian dan Negara-Negara yang Memiliki Populasi Harimau untuk meningkatkan kapasitas dan mendukung Jaringan Konservasi dan Pembangunan sebagai komunitas praktisi konservasi jangka panjang di antara berbagai pemerintahan dan organisasi. Kesepakatan ini juga menetapkan tahapan bagi peserta Global Tiger Initiative untuk melaksanakan pengumpulan dana lebih lanjut dan perluasan keanggotaan kemitraan Smithsonian – Bank Dunia untuk meningkatkan pendanaan dalam jumlah yang signifikan dalam rangka memobilisasi upaya-upaya pelatihan.
Jaringan ini diharapkan akan menjadi momentum lebih lanjut ketika persiapan di Pertemuan Tingkat Tinggi “Tahun Harimau (Macan)” tahun depan mencapai kemajuan di mana para pemimpin dari negara-negara yang memiliki populasi harimau bersama Bank Dunia, GEM dan organisasi-organisasi peserta lainnya berencana untuk “meninjau kemajuan yang signifikan di lapangan” mengenai aksi-aksi yang perlu dan mendukung kebijakan dan program yang luas di seluruh Negara yang Memiliki Populasi Harimau sehingga memungkinkan stabilisasi populasi harimau liar. Pemerintah Nepal sedang mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan Global Tiger Workshop (Oktober 2009) untuk mengkonsolidasi landasan teknis dan dukungan dalam rangka melaksanakan aksi-aksi yang mendesak di berbagai negara. Kemudian, di awal “Tahun Harimau”, Pemerintah Thailand akan mengadakan rapat tingkat menteri dari negara-negara Asia dan Pasifik untuk mengembangkan perlakuan politik yang diperlukan di kalangan kementerian lingkungan hidup dan kementerian-kementerian terkait lainnya di kawasan Asia dan Pasifik ini untuk melaksanakan kebijakan penting tentang penindakan hukum atas kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi dan konservasi harimau.
Anggota Kongres Bordallo, yang duduk dalam Komite Sumber Daya Alam dan Dinas Militer Dewan Perwakilan Rakyat AS, mengingatkan mereka yang hadir di Kastil Smithsonian bahwa upaya untuk menyelamatkan harimau dan keanekaragaman hayati umumnya masih dibayang-bayangi oleh hilangnya populasi harimau liar saat ini dalam jumlah besar di kawasan suaka harimau dan taman nasional di India dan negara-negara lain.
Selain tokoh-tokoh dari Smithsonian dan Bank Dunia, pembicara lainnya adalah Dr. Eric Dinerstein, Ilmuan Utama dan Wakil Presiden World Wildlife Fund dan Dr. Pavan Sukhdev, Ketua Global Markets Centre Mumbai, Deutsche Bank, dan Ketua Tim Peneliti Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang Perekonomian Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati.
Dr. Dinerstein berbicara tentang sebuah contoh inovatif yang memerlukan keterlibatan Bank Dunia: “Kami telah melaksanakan suatu proyek
Dengan memperhatikan keberadaan harimau, Bank Dunia dan mitra-mitranya sedang berupaya menyelesaikan masalah yang lebih besar berupa kelestarian pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Mereka juga terlibat dalam mengembangkan suatu kerangka yang menyertakan manfaat keanekaragaman hayati dalam rencana pembangunan dan memastikan agar pembangunan infrastruktur dilakukan dengan cara yang tidak merugikan melainkan mendukung dan memperbaiki habitat mereka. Semua pembicara yang berbeda menekankan bahwa inisiatif ini bukan sekadar menyelamatkan harimau liar. Hewan yang hampir punah tersebut dalam banyak hal menggambarkan masalah keanekaragaman hayati dan konservasi yang lebih luas. Jika cara-cara untuk melindungi harimau dan mengatasi kekuatan-kekuatan dasar yang membahayakan harimau dan spesies lain yang hampir punah dapat ditemukan maka banyak kemajuan dapat dicapai untuk menyelesaikan banyak masalah konservasi lainnya. Itulah sebabnya Global Tiger Initiative ini penting bagi Bank Dunia.
Presiden Zoellick menutup kotbahnya pada hari Jumat dengan sebuah metafora yang pernah diucapkan oleh Mahatma Gandhi: “Kebesaran suatu bangsa dan kemajuan moralnya dapat dinilai dari cara mereka memperlakukan hewan-hewannya.”
No comments yet.
Add New Comment



