Terumbu Karang dan Harimau: Mencari Dasar Pengertian yang Sama tentang Konservasi

Mitra-mitra dalam Global Tiger Initiative dan Coral Triangle Initiative membahas komitmen dan tantangan bersama di Bank Dunia. Apa saja kunci keberhasilan dan kesinambungan inisiatif konservasi multilateral berbasis negara di mana dunia politik serta kepentingan pengembangan keanekaragaman hayati seringkali berbenturan? Itulah pokok pembahasan pada pertemuan informal makan malam yang diadakan di Bank Dunia di Washington awal minggu ini, di mana organisasi-organisasi mitra Coral Triangle Initiative dan Global Tiger Initiative berkumpul untuk membicarakan pengalaman mereka dalam mendukung pelaksanaan kesepakatan konservasi multinasional yang kompleks.
Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (Terumbu Karang, Perikanan dan Ketahanan Pangan) (www.cti-secretariat.net) mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh Presiden Indonesia Yudhoyono bersama 5 negara lainnya di kawasan Pasifik Selatan (Malaysia, Papua New Guinea, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste) untuk menyepakati aksi-aksi politik yang dapat melindungi sumber daya hayati laut dan pantai di kawasan tersebut dalam rangka mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Beberapa rapat dan pertemuan negosiasi antar-departemen dari tahun 2007-09 menghasilkan Deklarasi Kementerian dan kesepakatan bersama tentang rencana untuk melestarikan dan melindungi kawasan terpenting keanekaragaman hayati laut di dunia. Panelis di pertemuan tersebut antara lain Kate Newman, Direktur Utama Coral Triangle Program di World Wildlife Fund, Mahendra Shrestha, Direktur Save the Tiger Fund, dan Nicole Glineur, Manajer Program Global Environment Facility (lihat presentasi terlampir).
Peserta dalam acara makan malam tersebut mengemukakan persamaan dan perbedaan yang signifikan antara kedua inisiatif. Meskipun GTI bertujuan untuk menyelaraskan kepentingan dari 13 negara yang berbeda di Asia Selatan, Tenggara dan Timur untuk menyelamatkan suatu spesies yang habitatnya sama sekali tidak berdekatan, Coral Triangle Initiative mempunyai kesempatan untuk melestarikan ekosistem laut yang saling berhubungan dan melaksanakan skenario “yang saling menguntungkan” bagi ke-6 negara yang menandatangani kesepakatan dari segi ekonomi dan biologi.

Para anggota tim Global Tiger Initiative mendengarkan dengan penuh perhatian ketika para mitra CTI menekankan pentingnya mendapatkan pendukung tingkat tinggi seperti Presiden Indonesia Yudhoyono dan berfokus pada bidang-bidang dengan dasar pemikiran yang sama antar negara. Beberapa dari hampir 40 hadirin juga menyatakan perlunya mengadakan komitmen pendanaan yang jelas sejak dini dari negara-negara tuan rumah maupun mitra pembangunan yang dikomunikasikan melalui lembaga-lembaga sponsor dengan keuntungan-keuntungan yang secara jelas dijelaskan kepada negara-negara peserta. Untuk CTI, donor terbesarnya adalah GEF yang menyumbangkan $63 juta (pembiayaan bersama mencapai $350 juta), dengan total komitmen hibah donor melebihi $100 juta berupa hibah multi-tahunan.
Alexander Moen, Wakil Presiden Strategic Initiatives of the National Geographic Society, menonjolkan aspek-aspek penting dari kampanye penjangkauan dan publisitas yang tepat sasaran untuk memobilisasi opini publik yang dapat dengan efektif mempengaruhi kebijakan ke arah yang tepat.
Kemajuan lebih lanjut terhadap tujuan GTI yang kompleks dan kadang-kadang sensitif secara politik dapat terjadi selama Global Tiger Workshop bulan depan di Kathmandu, Nepal, pada tanggal 27-30 Oktober, yang akan dihadiri para pakar dan perumus kebijakan dari semua negara yang memiliki populasi harimau (Tiger Range Countries).
No comments yet.
Add New Comment



